Sinopsis Greatness and Happiness
May 24, 2012Setelah lebih dari 4 tahun hadir di inflight magazine ‘Lionmag’, kompilasi artikel ‘Widsom in the Air’ akhirnya diluncurkan. Selama kurun waktu tersebut, telah banyak pembaca yang memberikan komentar, dukungan dan ucapan terima kasih di blog penulis atau bahkan meminta artikel secara langsung kepada penulis. Banyak juga pembaca yang mengutip artikel-artikel ‘Wisdom in the Air’ dalam blog mereka atau bahkan situs-situs resmi institusi. Karena itu, kehadiran buku yang diberi judul Greatness and Happiness: Kisah, Gagasan dan Kearifan yang Menginspirasi ini benar-benar sebuah momentum yang telah ditunggu-tunggu oleh banyak orang.
Untuk lebih memberikan kenikmatan kepada para pembaca, buku ini dikelompokkan ke dalam lima bagian yaitu determinasi, pembelajaran, strategi, pencerahan dan kepemimpinan. Kelima bagian tersebut masing-masing mencerminkan tahapan yang dilalui oleh seseorang dalam mencapai keagungan jiwa (greatness). Keagungan jiwa adalah kondisi mutlak yang diperlukan agar seseorang bisa merasakan kebahagiaan (happiness) yang merupakan keinginan setiap manusia dalam menjalani hidup di muka bumi ini.
Setiap bagian disusun secara lepas namun tetap memperkuat inspirasi terhadap bagian lainnya. Hal ini sangat selaras dengan widsom yang merupakan interdependensi antara berbagai aspek yang saling melengkapi. Demikian pula setiap artikel bisa menjadi sebuah gagasan yang utuh namun saling terhubung dengan artikel lainnya seperti kepingan puzzle yang memiliki bentuk namun ketika dipasangkan dengan kepingan-kepingan lain akan membentuk nuansa yang lebih lengkap dan lebih indah.
Buku ini sangat tepat bagi Anda yang memang berkeinginan mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam perjalanan menuju keagungan jiwa dan menciptakan kebahagiaan tidak hanya untuk diri Anda sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar Anda.
Quotes of the Century
February 9, 2012” Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” – Mahatma Gandhi
Greatness and Happiness (1)
February 9, 2012Kisah berikut ini mungkin sudah pernah Anda dengar. Sepasang suami-istri berjalan di tepi sawah menuju rumah mereka dalam kondisi hujan gerimis. Mereka melihat sepasang suami-istri lain mengendarai sepeda motor. Sang suami berkata,”Enak ya Bu jadi mereka. Meskipun masih kehujanan, mereka bisa lebih cepat tidak seperti kita yang berjalan kaki.”
Tak lama kemudian, sepasang suami-istri yang mengendarai sepeda motor tersebut melihat sebuah mobil bak terbuka yang dikendarai juga oleh sepasang suami-istri lainnya. Sang suami yang mengendarai motor pun berkata,”Asyik ya Bu jadi mereka. Meskipun mobil mereka tidak bagus, tapi mereka tidak kehujanan seperti kita.”
Di dalam mobil bak terbuka, sepasang suami-istri tersebut melihat sebuah sedan mewah. Sang suami berkata pada istrinya,”Nikmat ya Bu jadi mereka, bisa naik mobil bagus tidak seperti mobil kita yang sering mogok.”
Di dalam mobil sedan, sepasang suami-istri melihat pasangan suami-istri pertama yang sedang berjalan di tengah hujan gerimis. Sang suami pun berkata,”Romantis ya Mam, mereka bisa berjalan berpegangan tangan sambil menikmati hujan dan hawa desa yang sejuk.”
Petikan kisah di atas mengingatkan kita kembali pada dilema kebahagiaan. Mana yang benar, karena kita bahagia maka kita menjadi orang berjiwa besar atau karena kita orang berjiwa besar maka kita menjadi bahagia? Kedua pendapat tersebut bisa diperdebatkan secara panjang lebar dan memberikan implikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Namun saya punya pertanyaan mendasar: apa yang membuat seseorang berbahagia? Bisakah kebahagiaan diukur? Bisakah kebahagiaan seseorang dipuaskan? Dalam banyak kasus, seseorang bisa jadi sudah mendapatkan hampir semua hal dalam hidupnya kecuali ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya ada juga orang yang sepertinya tidak memiliki apa-apa tetapi dia berbahagia. Bahkan ada juga orang yang tidak tahu apakah dia berbahagia atau tidak. Kadang-kadang, seseorang menyadari kalau dulu ia berbahagia, namun ia baru menyadarinya setelah kebahagiaan itu berlalu. Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai kepuasan dan karenanya semakin seseorang mencari kebahagiaan, semakin ia tidak puas dan semakin ia tidak berbahagia. Kebahagiaan (happiness) memiliki implikasi disjunctive atau saling melemahkan.
Apa bedanya dengan berjiwa besar (greateness)? Orang berjiwa besar yang saya maksud di sini bukan orang hebat secara fisik dan mental namun orang yang hebat secara emotional dan spiritual. Uniknya, orang-orang seperti itu tidak mau mengakui bahwa mereka hebat. Bahkan mereka tidak peduli dengan atribut hebat yang dilekatkan oleh orang lain kepada mereka. Semakin mereka hebat (dalam pengertian ini), semakin mereka merasa tidak hebat dan akibatnya mereka semakin belajar untuk bertambah hebat. Hebat (greatness) memiiki implikasi conjunctive atau saling menguatkan.
Jika demikian, maka pertanyaannya apakah salah bila kita ingin mencapai kebahagiaan? Tentu saja tidak. Bahkan kita harus mencapai kebahagiaan. Namun kita harus ingat bahwa kebahagiaan adalah hasil, bukan cara, sehingga ada proses yang harus dilalui. Seseorang tidak bisa serta merta menjadi bahagia bila ia tidak melalui proses tersebut. Proses ini yang saya sebut dengan greatness. Dengan kata lain, mencapai greatness akan membuat seseorang mencapai happiness.
Lalu apa yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai greatness? Tentu ada banyak opini dan pembuktian yang harus dilakukan. Namun untuk menyederhanakan pembahasan kita, saya akan menitikberatkan pada lima aspek berikut ditambah happiness sebagai tujuan yang ingin dicapai.
Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi November 2011.
Kebenaran atau Pembenaran (2)
December 12, 2010Upaya untuk melakukan pembenaran mengalami stadium seperti halnya kanker. Pada stadium awal, pembenaran yang kita lakukan adalah melakukan blaming atau menyalahkan orang lain atau hal lain. Contoh blaming yang biasa dilakukan misalnya: ”Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi tidak ada yang mendukung saya.” Tentu saja kalimat tersebut bisa berarti orang yang mengucapkannya benar-benar sudah berusaha namun dalam konteks blaming, ia sebenarnya belum berusaha sebaik yang dia ucapkan namun menutupinya dengan menyalahkan pihak-pihak yang tidak mendukungnya. Pembenaran dalam bentuk blaming bisa diperbaiki dengan bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri seperti berikut: ”Benarkah saya sudah melakukan yang terbaik dan benarkah tidak ada satu pun orang yang mendukung saya?”
Pada stadium menengah, pembenaran mengambil bentuk exuse. Dalam hal ini si pelaku seolah-olah menerima bahwa dirinya belum berusaha namun memaklumi hal tersebut karena ia tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan usaha tersebut. Contoh exuse misalnya: ”Tentu saja saya belum bisa melakukan usaha terbaik karena saya tidak memiliki biaya, orang dan waktu yang cukup untuk itu.” Pembenaran dalam bentuk exuse bisa dikoreksi dengan pertanyaan: ”Bila saya memiliki biaya, orang dan waktu apakah saya akan melakukan usaha yang lebih baik daripada yang saya lakukan sekarang?”
Pada stadium akhir, pembenaran mengambil bentuk justify. Dalam hal ini si pelaku membenarkan sikap atau tindakan yang dilakukannya. Contoh justify misalnya: ”Saya tidak perlu melakukan usaha terbaik karena belum jelas hasil yang akan dicapai.” Pembenaran dalam bentuk justify lebih sulit diatasi karena si pelaku berlindung di balik argumen yang sepertinya cukup kuat. Namun demikian, upaya perbaikan bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan: ”Bila hasilnya sudah jelas, apakah saya bersedia melakukan usaha terbaik?”
Anda tentu bisa menyimpulkan, semakin parah pembenaran yang dilakukan seseorang, semakin halus bentuknya. Seolah-olah ia memang sudah melakukan hal yang benar. Itulah sebabnya kita menyebutnya sebagai pembenaran. Dengan memberikan dalih-dalih yang sepertinya benar, si pelaku berusaha mendapatkan pemakluman dari orang-orang di sekitarnya. Semakin tinggi stadium pembenaran yang dialami seseorang, semakin kuat dalih-dalih yang digunakannya.
Lalu bagaimana agar kita bisa terlepas dari pembenaran? Jawabannya terletak pada kisah si pemuda dengan mikroskopnya di atas. Sama seperti halnya si pemuda tadi, dalam hidup ini kita memiliki (atau menemukan) mikroskop. Ketika mikroskop tersebut digunakan untuk melihat fakta-fakta yang indah seperti kelopak bunga atau berlian, kita pun menerimanya sebagai kebenaran. Namun ketika mikroskop tersebut digunakan untuk melihat fakta-fakta yang tidak indah seperti cacing dalam sambal tadi, maka kita dihadapkan kepada dua pilihan. Pilihan pertama adalah membuang mikroskopnya seperti pemuda tadi atau pilihan yang lebih bijak adalah berhenti memakan sambal yang penuh dengan cacing sebelum kita sakit perut. Saya yakin Anda cukup bijak untuk mempertahankan mikroskop Anda walaupun untuk itu Anda harus berhenti menikmati sambal kesukaan Anda.
Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi Oktober 2010.
Kebenaran atau Pembenaran (1)
November 21, 2010Seorang pemuda dari desa berjalan-jalan di kota. Setelah melihat banyak keramaian dan hiruk pikuk di kota, sang pemuda tertarik dengan kerumunan orang banyak di salah satu sudut kota. Dengan berdesak-desakan, si pemuda akhirnya bisa berdiri di jajaran paling depan dari kerumunan tersebut. Ia menyaksikan seoarang laki-laki berdiri di tengah-tengah panggung dengan suara lantang, ”Ini adalah alat paling ajaib yang pernah ada.” Kata laki-laki tersebut sambil menunjuk kepada sebuah mikroskop yang diletakkannya di atas sebuah meja.
Penasaran dengan perkataan laki-laki tersebut, si pemuda menyimak dengan perhatian penuh. Tiba-tiba ia mendengar suara laki-laki itu memanggilnya, ”Hei, kamu!”
Si pemuda menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan siapa yang dimaksud oleh si laki-laki itu.
”Iya kamu!” Lanjut si laki-laki. ”Ayo naik!”
Dalam kebingungannya, si pemuda melangkah ragu-ragu naik ke atas panggung.
”Lihat!” Si laki-laki memerintah si pemuda seraya menunjuk ke arah lubang mikroskop.
Si pemuda pun membungkukkan badannya perlahan-lahan dan mengintip ke dalam lubang tersebut. ”Astaga!” Seru si pemuda, hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Rupanya si laki-laki meletakkan sehelai kelopak bunga di bawah mikroskop tersebut. Si pemuda bisa melihat serat-serta kelopak bunga yang indah.
Lalu si laki-laki mengganti kelopak bunga tersebut dengan sebutir berlian. ”Nah, sekarang lihat lagi!” Perintah si laki-laki.
Kali ini, dengan penasaran si pemuda segera mengintip kembali lubang mikroskop tersebut. ”Waawww!!!!” Si pemuda bersorak kegirangan. Dengan wajah berseri-seri ia pun tertawa gembira ke arah penonton seraya mengacungkan kedua jempol tangannya. Melalui mikroskop ini ia bisa melihat pantulan sinar-sinar berlian dengan sangat jelas dan indah.
Ketika si laki-laki penjual menawarkan mikroskop tersebut, ia pun segera membayarnya tanpa menawar-nawar lagi.
Setibanya di kampung, si pemuda memanggil semua warga kampung. Lalu setelah seluruh penduduk kampung berkumpul ia pun menjelaskan mikroskop yang baru dibelinya. Lalu ia pun memperagakan mikroskop tersebut seperti si laki-laki penjual tadi. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia pun mencoba berbagai benda untuk ditaruh di bawah lensa mikroskop tersebut.
Setelah puas bermain-main dengan mikroskop barunya, si pemuda pun merasa lapar dan bersiap-siap untuk menyantap hidangan makan. Sesaat sebelum melahap makanannya, si pemuda tiba-tiba tertarik dengan sambal kesukaannya. ”Saya sudah makan sambal ini bertahun-tahun. Penasaran, apa sih isinya.” Demikian gumam si pemuda.
Ia pun lalu mengambil sedikit sambal kesukaannya itu dan meletakkannya di bawah lensa mikroskop. Dengan perasaan berdebar-debar, ia pun mengintip lubang mikroskop tersebut. ”Astaga…????” Si pemuda kaget luar biasa.
Dengan jelas ia melihat cacing-cacing yang sangat kecil menari-nari di dalam sambal tersebut. Setengah tak percaya, si pemuda bersandar di dinding dengan penuh kebingungan. ”Apa yang harus aku lakukan?”
Setelah melihat kenyataan yang mengejutkan itu, si pemuda bimbang apakah ia harus menghentikan memakan sambal kesukaannya itu? Cukup lama ia berdiam diri tidak bergerak. Jampai akhirnya si pemuda berusaha bangun dengan kekuatan tenaga yang tersisa. Ia pun melangkah gontai dan akhirnya mengambil mikroskop tersebut. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya ke halaman rumahnya. Sesaat ia berhenti melangkah, menarik nafas dalam-dalam dan menengadah ke atas. Lalu dengan berteriak nyaring, si pemuda membanting mikroskop tersebut sampai rusak dan melemparnya di antara semak belukar.
Seperti cerita di atas, dalam hidup ini kita seringkali mencari kebenaran. Namun anehnya, ketika kita mendapatkan kebenaran yang kita cari, tidak jarang pula kita mengubahnya menjadi pembenaran. Bahayanya lagi, perbedaan di antara keduanya sangatlah tipis. Perbedaan tipis ini disebabkan karena keduanya berasal dari satu sumber fakta yang sama hanya saja bila kita bisa menerima fakta tersebut apa adanya maka kita menjadikan fakta tersebut sebagai sebuah kebenaran sementara bila kita menerima fakta tersebut sesuai keinginan kita maka kita melakukan pembenaran terhadap fakta tersebut.
Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi Oktober 2010.
Jebakan Atribut (2)
August 30, 2010Meskipun mengundang tawa atau paling tidak membuat penonton tersenyum geli, kisah sederhana ini lagi-lagi memperlihatkan salah satu kelemahan terbesar manusia yaitu lebih mementingkan atribut daripada esensi. Misalnya, dalam kisah di atas, ruang kerja dinilai lebih penting daripada apa yang dikerjakan, fasilitas lebih dibanggakan daripada prestasi, jilatan orang lebih dihargai daripada nasihat, dan jabatan lebih diagungkan daripada amanah yang diemban.
Namun itulah tantangannya. Meskipun pelajaran seperti ini sudah dialami dari sejak jaman batu (maksud saya tentu saja tidak hanya di film The Flinstone ini), tetap saja banyak orang memiliki sikap yang sama yaitu menjadikan atribut sebagai ukuran keberhasilan. Mungkin ada yang bertanya, “Lalu memangnya kenapa kalau seseorang menjadikan atribut sebagai ukuran keberhasilan? Bukankah tidak ada yang dirugikan?”
Tentu saja ada yang dirugikan yaitu pihak-pihak yang seharusnya menerima hasil kerja orang tersebut dan dirinya sendiri. Kembali ke kisah di atas, karena merasa sudah hebat dengan atribut-atributnya, Fred tidak menyadari kalau dirinya sebenarnya tidak mampu mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Akibatnya banyak pihak yang dirugikan mulai dari unit lain yang menunggu hasil kerja Fred, direktur perusahaan hingga pelanggan. Masalah lainnya adalah perasaan malu dan beban psikologis lainnya yang harus ditanggung Fred saat ia tidak lagi menjadi pejabat di perusahaan tersebut. Yah, bolehlah kalau Anda menyebut hal yang terakhir ini sebagai post power syndrom.
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak terjebak dalam godaan atribut tersebut? Untuk menjawab pertanyaan kritis ini maka kita harus mengenali terlebih dahulu bahwa terdapat tiga jenis atribut yang mana masing-masing membutuhkan cara penanganan yang berbeda.
Artifact
Artifact merupakan benda-benda mati yang melekat kepada seseorang atau sekelompok orang untuk fungsi-fungsi tertentu seperti informasi, komunikasi, atau alat bantu lainnya. Simbol, pakaian, dan ruangan merupakan artifact. Bahkan alat-alat kerja dan fasilitas seperti laptop, mobil dan lainnya bisa juga menjadi artifact karena kelekatan asosiasi yang terbangun.
Cara praktis untuk mengatasi jebakan artifact adalah dengan mengembalikan artifact tersebut kepada fungsinya yaitu sebagai alat. Bahkan lebih baik lagi bila kita membiasakan diri untuk tidak tergantung terhadap artifact tersebut. Salah seorang mantan menteri pernah mengungkapkan bahwa pada saat-saat jalanan macet dan ia harus menghadiri pertemuan penting, maka ia kemudian menggunakan ojek. Suatu ketika, saat ia dibonceng oleh tukang ojek, seorang ibu mengenalinya. Dengan heran sang ibu bertanya, “Bapak kok naik ojek?”
Lalu sang menteri pun menjawab ringan,”Lho memangnya kenapa Bu?”
Karena tidak memiliki ketergantungan terhadap artifact, maka sang menteri itu pun tidak terbebani pada saat ia sudah tidak lagi memiliki semua fasilitas tersebut.
Title
Yang dimaksud dengan title adalah berbagai bentuk sapaan atau gelar yang diberikan karena suatu alasan seperti garis keturunan, status, kedudukan atau pun pendidikan. Title sebenarnya diperlukan untuk menjelaskan posisi identitas seseorang dalam suatu aspek atau menunjukkan penghargaan dalam suatu konteks. Misalnya seseorang bisa saja mendapat gelar profesional karena keahliannya dalam suatu bidang namun hal itu tidak berlaku untuk bidang lainnya. Salah seorang rekan di kantor saya yang memiliki gelar kebangsawanan suatu ketika menjelaskan, “Itu kan dalam konteks silsilah, tapi di dalam pekerjaan ini, gelar tersebut tidak bisa dibawa-bawa.”
Dari selorohan teman saya tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bahwa cara untuk mengatasi jebakan title adalah dengan menggunakannya pada konteks keperluan yang tepat. Bahkan para profesor dan doktor dari berbagai perguruan tinggi luar negeri yang saya kenal hanya mengijinkan saya menyebut gelar mereka satu kali. Yaitu pada saat saya berkenalan dengan mereka. Setelah itu mereka biasanya berkata, “Mulai sekarang cukup panggil nama depan saya saja.”
Appreciation
Atribut yang ke-tiga adalah apresiasi atau pujian. Apresisasi lebih halus sifatnya dan lebih mudah menjebak kita karena tidak nampak wujudnya seperti artifact dan tidak dibatasi oleh kriteria struktur sosial, profesi, akademis dan sebagainya seperti title. Seseorang di kantor Anda bisa saja memuji Anda lalu perlahan-lahan pujian tersebut menjadi jebakan atribut bagi Anda. Begitu halusnya, apresiasi bahkan bisa diberikan oleh diri Anda sendiri sehingga tanpa disadari Anda memasang jebakan atribut bagi diri Anda. Seperti atribut lainnya, apresiasi tentu dibutuhkan khususnya untuk memberikan penilaian, penghargaan atau memotivasi seseorang. Namun menyikapi apresiasi dengan keliru akan berpotensi menjadikan apresiasi tersebut sebagai jebakan atribut.
Untuk mengatasi jebakan apresiasi, maka kita harus membiasakan diri untuk melakukan tiga hal yaitu menetralisir apresiasi, memberikan apresiasi kepada orang lain dan bersedia menerima saran dari orang lain. Ketika seseorang sudah mengalami kecanduan terhadap pujian, maka ia akan ‘memaksa’ orang-orang di sekitarnya untuk menjadi penjilat. Namun sebaliknya, kebiasaan orang-orang di sekitarnya yang hanya berani memberikan pujian dan tidak berani mengungkapkan kebenaran juga akan membuat seseorang menjadi kecanduan akan pujian. Jadi hubungan keduanya di sini seperti lingkaran setan yang saling terhubung.
Selain bentuk-bentuk atribut di atas, kita pun harus mewaspadai waktu dan tempat dimana atribut-atribut tersebut bisa menyerang. Dalam tulisan ini, saya hanya mengambil contoh jebakan-jebakan atribut dalam lingkungan pekerjaan. Namun sesungguhnya, jebakan atribut bisa muncul dimana saja baik saat kita berada di tengah keluarga, di tengah masyarakat, atau tempat lainnya. Demikian pula jebakan atribut bisa menjerat kita pada saat kita merasa susah, senang, ragu, cemas, atau bahkan pada saat kita merasa sedang berada dekat sekali dengan Sang Pencipta sekalipun.
Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi Juli 2010.
Jebakan Atribut (1)
August 12, 2010Ha..ha.., film yang satu ini kocak sekali. Untuk pertama kalinya tokoh kartun dari jaman batu, Fred Flinstone, di angkat ke layar lebar. Pemerannya siapa lagi kalau bukan John Goodman. John memang memiliki wajah dan perawakan yang sangat cocok dengan Fred Flinstone sehingga seolah ia dilahirkan memang untuk memainkan tokoh lugu dan lucu tersebut.
Dalam film tersebut dikisahkan Fred dan sahabat karibnya, Barney Rubble (diperankan oleh Rick Moranis), bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan properti. Suatu ketika, perusahaan tersebut membuka suatu lowongan baru sebagai manajer procurement. Seluruh karyawan pun mengikuti tes. Meskipun sangat berambisi untuk dipromosikan menjadi manajer, Fred benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam tes tersebut sehingga ia pun menjadi putus harapan. Namun karena kebaikan hati Burney yang mau menukarkan jawaban tesnya, maka Fred pun kemudian terpilih untuk mengisi lowongan baru tersebut.
Di hari pertama menduduki jabatan barunya, Fred pun diajak ke ruangan kantornya yang mewah. Dengan kedua mata yang terbelalak Fred memasuki ruangan kerjanya yang luas, mengelus-ngelus meja kerjanya yang besar serta duduk di kursinya yang empuk. Terlebih lagi saat ia diperkenalkan pada sekretaris pribadinya yaitu Sharon Stone (diperankan oleh Halle Berry), Fred benar-benar kehilangan kendali dirinya.
Tidak hanya di kantor, promosi Fred ini pun terasa sampai ke rumah. Istri setianya, Wilma, menjadi lebih berani membelanjakan uang termasuk menggunakan kartu kredit. Demikian pula ibu mertua Fred sekarang lebih menghargai menantunya tersebut. Pesta mewah pun digelar untuk merayakan promosi tokoh yang seringkali terlalu percaya diri ini.
Namun tentu saja cerita sesungguhnya baru dimulai. Anda tidak akan terkejut bila selanjutnya Fred hanya bisa duduk bengong di ruang kerjanya. Selain hanya bermain-main dengan burung beo yang berfungsi sebagai tukang catat dan merayu sekretarisnya, Fred hanyalah menjadi obyek konspirasi di kantornya. Ia tidak sadar bahwa orang-orang yang menjilatnya memiliki skenario besar untuk menuduhkan kasus korupsi kepada Fred. Untungnya, sebagaimana kebanyakan film Hollywood, kisah ini berakhir happy ending. Fred bisa selamat dari tuduhan korupsi dan bahkan secara tidak sengaja menemukan teknologi konstruksi beton.
Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi Juli 2010.
3 Permintaan
February 7, 2010Bos: Kamu sudah berjasa terhadap perusahaan. Kamu boleh mengajukan 3 permintaan dan akan saya kabulkan.
Staf: Terima kasih Bos. Permintaan saya yang pertama, mohon saya dipromosikan. Permintaan saya yang ke-dua, mohon gaji saya dinaikkan. Dan permintaan saya yang ke-tiga… mohon saya diperbolehkan mengajukan tiga permintaan lagi.
