9 Jenis Emosi dalam Pengambilan Keputusan

October 30, 2013

Pernahkah Anda mengalami kesulitan pada saat hendak memutuskan sesuatu? Di satu sisi Anda tahu keputusan apa yang seharusnya Anda ambil namun di sisi lain ada suatu perasaan dan keinginan kuat yang mendorong Anda untuk mengambil keputusan lain yang sama sekali bertentangan. Mungkin sebagian dari Anda, pada situasi tersebut, memilih untuk menggabungkan dua keputusan menjadi satu dan hasilnya ternyata tidak optimal atau bahkan malah gagal sama sekali. Meskipun banyak metoda ilmiah dan praktis bisa digunakan dalam mengambil keputusan seperti penyusunan skala prioritas dan pembobotan, namun tak bisa dipungkiri bahwa yang namanya pengambilan keputusan tidak bisa lepas dari faktor emosi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengendalikan dan menggunakan emosi kita pada saat-saat kritis yang bisa berdampak terhadap kelangsungan hidup kita, perusahaan, masyarakat sekitar atau bahkan negara?

Ilmu yang bermanfaat bisa datang dari mana saja. Begitu pula dengan apa yang saya alami. Suatu ketika saya mendapatkan satu pembelajaran yang sangat berharga terkait dengan emosi dalam pengambilan keputusan dari rekan dan sekaligus mentor saya yaitu Bapak Agus Riyanto. Beliau menjelaskan ada sembilan jenis emosi yang biasanya menjadi landasan bagi manusia dalam mengambil suatu tindakan tertentu. Kesembilan jenis emosi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Apathy (ketidakpedulian). Sikap dan tindakan yang dilakukan didasari rasa ketidakpedulian sehingga segala sesuatu dikerjakan secara asal-asalan. Hasilnya pun tentu saja asal jadi. Dalam pengambilan keputusan, sikap apathy mendorong seseorang untuk tidak memutuskan apa-apa atau tidak berbuat apa-apa.
  2. Grief (kesedihan). Perasaan kehilangan atau kekecewaan karena tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan telah menjadi pemicu dari sikap, tindakan atau keputusan yang diambil. Dalam situasi ini maka hasrat untuk membangun atau mencapai sesuatu yang baik telah memudar sehingga seseorang gagal mencapai potensi terbaiknya.
  3. Fear (ketakutan). Di tengah tekanan yang berat seperti misalnya karena batas waktu atau ketiadaan sumber daya, seseorang bisa mengalami rasa takut yang bisa dimanifestasikan dalam bentuk kepanikan. Kekhawatiran yang berlebihan karena menghadapi sesuatu yang belum pernah dihadapi juga bisa menjadi pemicu ketakutan. Dalam situasi seperti ini maka seseorang tidak bisa berpikir dengan jernih dan bersikap tenang sehingga lalai dalam mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada.
  4. Lust (keserakahan). Rasa ingin memiliki atau menguasai sesuatu secara berlebihan bisa jadi merupakan wujud keserakahan. Dalam dorongan emosi seperti itu maka seseorang bisa kehilangan kendali atas logikanya sehingga kurang teliti dalam melakukan perhitungan dan pertimbangan untuk membuat keputusan yang bisa berakibat fatal terhadap dirinya, keluarganya atau organisasi/institusi yang dipimpinnya.
  5. Anger (kemarahan). Keinginan yang kuat untuk melampiaskan amarah baik terhadap sesuatu atau seseorang bisa berujung pada tindakan yang berpotensi merusak atau menyakiti. Tentu saja seseorang yang mengambil keputusan dengan dasar amarah akan tertutup pikiran dan hatinya dari berbagai pertimbangan yang sehat dan tujuan yang baik. Dalam keadaan seperti ini, biasanya keputusan yang dibuat tidak membawa perbaikan yang diharapkan tetapi justru malah memperparah keadaan.
  6. Pride (kesombongan). Dengan alasan harga diri dan keinginan membuktikan kemampuan yang dimilikinya, seseorang bisa terjebak dalam emosi kesombongan pada saat membuat suatu keputusan. Dalam situasi ini, maka seorang pengambil keputusan bisa jadi melakukan tindakan yang tidak efisien seperti penggunaan sumber daya secara berlebihan atau bahkan melakukan tindakan yang tidak berguna sama sekali hanya karena ingin memamerkan kemampuan yang dimilikinya.
  7. Courageous (keberanian). Keinginan yang kuat untuk mempertahankan atau menyelamatkan sesuatu bisa mendorong keberanian seseorang yang berujung pada kegigihan yang tiada bandingannya. Dasar keputusan yang dibuat adalah keberanian untuk menghadapi bahaya yang mengancam. Karena itu biasanya sang pengambil keputusan akan lebih hati-hati dalam memperhitungkan segala sesuatunya sehingga keputusan yang dibuat berpotensi untuk menghasilkan sesuatu yang baik.
  8. Acceptance (penerimaan). Sikap yang siap menerima segala kemungkinan yang terjadi biasanya muncul setelah usaha terbaik dilakukan. Inilah bedanya antara acceptance dengan apathy. Pada situasi dimana emosi untuk menerima (acceptance) telah terbentuk, biasanya emosi-emosi lainnya seperti kesedihan, ketakutan, keserakahan, kesombongan, dan kemarahan mulai mereda atau bahkan hilang sama sekali. Karena itu, sang pengambil keputusan akan lebih jernih berpikir dan bersikap lebih tenang sehingga bisa melihat peluang-peluang yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Karena itu, keputusan yang dibuat dengan dasar acceptance biasanya akan berujung pada sesuatu yang baik.
  9. Peace (kedamaian). Keinginan untuk menciptakan atau mencapai kedamaian merupakan emosi yang sangat baik karena biasanya emosi yang satu ini tidak mengandung kepentingan pribadi tetapi lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Dengan landasan emosi yang demikian, maka seorang pengambil keputusan akan bersikap sangat arif dan obyektif sehingga mampu menggali semua kemungkinan terbaik yang bisa dilakukan. Hasilnya, tentu saja keputusan yang berbuah manis bagi dirinya dan orang lain.

Para pembaca tentu bisa segera menyimpulkan bahwa enam emosi yang pertama merupakan emosi yang negatif atau jenis emosi yang sebaiknya dihindari pada saat membuat keputusan apalagi keputusan yang sangat penting dan berdampak luas. Kisah Hitler pada saat menyerbu Soviet merupakan sebuah contoh yang sangat baik dalam menjelaskan pengaruh emosi negatif. Kekuatan dan kelebihan Jerman seperti kecerdasan strategi para jendralnya, keahlian dan pengalaman para prajuritnya, serta ketangguhan dan kecanggihan peralatan perangnya menjadi tidak berarti karena terkubur di bawah ketakutan, keserakahan, kesombongan dan kemarahan sang diktator. Akibatnya, Hitler luput memperhitungkan kecukupan jumlah tentara, perlengkapan, amunisi dan suplai makanan mengingat luasnya wilayah Soviet. Hitler juga tidak menghiraukan saran-saran dari para jendralnya. Bahkan, ia terlalu meremehkan jumlah pasukan dan kecepatan produksi senjata yang bisa dihasilkan Stalin. Dan, yang terpenting, Hitler alpa memperhitungkan semangat juang tentara merah yang pantang menyerah. Emosi negatif yang begitu mendominasi sang fuhrer menyebabkan ia melakukan keputusan-keputusan bodoh seperti tidak membekali pasukannya dengan baju hangat yang tebal untuk menghadapi musim dingin di Rusia yang terkenal ganas karena Hitler memperkirakan Jerman sudah bisa menundukan Soviet dalam waktu enam bulan saja sebelum musim dingin tiba. Ternyata perang tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun. Jerman akhirnya terseret ke dalam pertempuran gerilya di dalam kota dan peperangan melawan cuaca, lapar dan keputusasaan. Bahkan di tengah kepanikannya, Hitler berkali-kali membuat blunder dengan merelokasi pasukan dan peralatan perangnya pada saat dan untuk tujuan yang tidak tepat. Hasil akhirnya, kita sama-sama tahu. Penyerangan Jerman ke Rusia menjadi titik balik kekalahan Jerman di Eropa dan kekalahan poros Jerman, Jepang, dan Italia dalam perang dunia ke-2.

Tiga emosi yang terakhir merupakan emosi positif yang memberikan kita kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bila kita menggunakan emosi positif, maka kita akan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari “tangan yang tidak terlihat”. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menjaga emosi kita agar selalu menggunakan ke-tiga emosi positif tersebut dalam membuat keputusan? Sebagian dari jawaban itu terletak pada kepekaan kita untuk selalu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita melakukan sesuatu karena emosi positif atau negatif? Seperti misalnya keputusan kita untuk menerima suatu jabatan tertentu, apakah karena keinginan kita untuk membawa perbaikan (peace) ataukah keinginan untuk menunjukkan kemampuan kita (pride)? Atau malah keinginan kita untuk mendapatkan materi yang lebih banyak (lust)? Bila kita sudah memiliki kepekaan untuk selalu menguji emosi kita, maka sisa jawabannya akan ditemukan seiring waktu. Karena emosi kita sesungguhnya bisa berubah dari waktu ke waktu. Manusia tidak sempurna. Tetapi bisa selalu menjadi lebih baik. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak cepat merasa puas karena kita sudah mendasari suatu keputusan dengan emosi yang positif. Ingat, suatu keputusan yang diawali dengan courageous bisa berubah menjadi pride bila kita tidak hati-hati menjaganya. Selamat membuat keputusan!

 

Special Thanks to: Agus Riyanto

Artikel ini telah dimuat di Lionmag

9 Pesan Seorang Anak

January 10, 2013
  1. Janganlah malu bila tidak memberi ku baju yang bagus, malu lah bila baju bagus itu membuat ku angkuh. 
  2. Janganlah merasa minder karena aku tidak bisa bernyanyi, minder lah bila aku tidak bisa bergembira ketika menyanyikan lagu yang riang .
  3. Janganlah menyesal bila tidak member ku mobil yg bisa mendampingi ku, menyesal lah bila tidak bisa mendampingi ku dimana aku berada.
  4. Janganlah merasa kalah ketika tidak bisa membelikan aku rumah, merasa kalah lah ketika aku tidak bisa membangun rumah tangga yg baik.
  5. Janganlah menjadi kecut karena tidak pernah merayakan pesta meriah untuk ku, tapi merasa kecut lah ketika aku selalu berpesta pora dalam hidupku.
  6. Janganlah takut bila tidak memberi ku kursus keterampilan, takut lah bila aku tidak terampil membawa diriku dalam mengarungi kehidupan ini.
  7. Janganlah cemas bila aku tidak bisa menghitung dengan baik. Cemas lah bila aku selalu memperhitungkan hal-hal yang baik. 
  8. Janganlah sedih karena tidak mengajari ku ilmu yg tinggi, sedih lah bila tidak mengajari ku cara menggunakan ilmu itu.
  9. Janganlah marah bila aku masih sering berbuat salah, marah lah bila aku tidak pernah belajar dari kesalahan itu.

Jubah Sakti

November 24, 2012

He who controls others may be powerful, but he who has mastered himself
is mightier still

Lao Tzu

                                                                                                 

Tirai dibuka dengan diiringi alunan musik: neng nong neng gung neng nong neng gung…….. Panggung pun mulai menampakkan dirinya. Seorang lelaki muda sedang duduk tertunduk di bawah sebatang pohon. Lalu seorang kakek tua melangkahkan kaki memasuki panggung dengan langkahnya yang khas, kembali dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung…….

Kakek tua itu pun bertanya, ”Apa yang kau sedang tunggu anak muda?” Sang pemuda menengadahkan kepalanya, menatap Sang Kakek. ”Hamba sedang menanti hewan buruan Kek.” Demikian jawab si pemuda. ”Berapa lama kamu telah menunggu?” Kakek itu pun kembali bertanya. ”Kira-kira tiga hari dua malam.” Kembali jawab si pemuda. Kakek tua pun termanggut-manggut seperti sedang berusaha memahami kondisi si pemuda. Ia pun mengeluarkan sehelai kain dari dalam buntalan yang dibawanya dan lalu menyerahkannya pada pemuda itu. ”Kenakanlah ini supaya kamu tidak kedinginan. Nanti malah masuk angin.” Sang pemuda sedikit ragu, tapi kemudian ia menerima kain itu. Sang kakek pun berlalu dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung……. Tirai ditutup.

Setelah beberapa saat, tirai kembali dibuka dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung……. Tampak sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang tidak terlalu besar dan beberapa ekor binatang ternak. Sang kakek memasuki panggung dengan langkahnya yang khas. Sang kakek pun memanggil penghuni rumah itu, ”Permisi….permisi….permisi…” Sesaat hening, tidak ada jawaban. Lalu sang kakek memberanikan diri membuka pintu pagar dan mengetuk pintu: tok…tok…tok. Pintu pun terbuka dan munculah sang pemuda dengan seorang wanita cantik di belakangnya sambil menggendong bayi kecil. ”Eh Kek, mari silahkan masuk.” Pemuda itu pun menyambut dengan gembira. Sang kakek meletakkan buntalannya di dekat pintu dan melangkah masuk. ”Jadi kamu sudah menikah dan berkeluarga?” Tanya sang kakek. ”Iya, kira-kira tidak lama setelah kita bertemu di bawah pohon dulu.” Jawab sang pemuda. Wanita di sebelahnya pun tersenyum simpul. Tirai kembali ditutup dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung…….

Beberapa saat kemudian, tirai kembali dibuka dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung……. Tampak sebuah desa kecil dengan beberapa rumah sederhana. Sang kakek memasuki panggung dengan langkah kakinya yang khas. Terdengar suara memanggil dari kejauhan, ”Kek…. Kakek….” Seorang anak kecil berlari-lari menghampiri. Sang kakek menoleh. Dari kejauhan si pemuda berjalan ringan didampingi istrinya. Sang kakek pun memeluk anak itu dan menggendongnya. ”Kamu sudah besar sekarang ya Cu.” Sesaat kemudian si pemuda itu pun menghampiri. Setelah mencium tangan sang kakek, pemuda itu pun mengajak sang kakek untuk singgah. ”Mari kek mampir di dusun kami.” Sang kakek pun mengikuti dengan langkah kaki yang agak berat. ”Cepat sekali penduduk di sini bertambah.” komentar sang kakek. ”Iya kek. Saya sekarang adalah kepala dusun di sini.” Tirai kembali ditutup dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung…….

Setelah agak lama, tirai kembali dibuka perlahan-lahan dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung……. Tampak sebuah istana megah dengan pintunya yang sangat besar. Para pengawal terlihat berjaga-jaga di setiap sudut. Sang kakek memasuki panggung dengan langkahnya yang khas. Pengawal langsung menyilangkan tombak di hadapan sang kakek. ”Siapa? Mau kemana?” Sang kakek pun menjawab, ”Saya mau ketemu dengan seorang pemuda.” Kembali pengawal bertanya dengan lebih galak, ”Pemuda siapa? Tidak ada pemuda di sini.” Lalu sang kakek berusaha menerobos, ia pun menggedor-gedor pintu istana dan memanggil-manggil si pemuda. Pintu pun terbuka sedikit, lalu kemudian munculah seleongsong meriam. “Siapa kamu?” Terdengar suara dari balik pintu yang sangat dikenal oleh sang kakek. “Ini aku nak, kakek.” Pintu istana pun perlahan-lahan terbuka. Tampaklah si pemuda dengan pakaian yang agung seperti raja. Ia memakai mahkota emas dengan pedang dipinggangnya serta kain pemberian si kakek dikenakannya sebagai jubah. Si pemuda pun membungkukkan badannya, ”Silahkan masuk kek, kami sudah siap menyambut kakek.” Tirai kembali ditutup perlahan-lahan dengan diiringi musik: neng nong neng gung neng nong neng gung…….

Setelah cukup lama, tirai kembali dibuka. Kali ini tanpa musik melainkan suara petir dan halilintar. Panggung hampir tidak kelihatan karena gelap. Angin bertiup kencang. Tidak ada rumah, tidak ada dusun, apalagi istana. Tidak ada para pengawal, tidak ada penduduk, tidak ada istri yang cantik dan anak yang lucu. Si kakek mencari ke sana ke mari. ”Pemuda….pemuda… dimanakah engkau?” Lama terdiam, hening, sunyi, tidak terdengar jawaban. Sang kakek kembali memanggil, ”Pemuda…pemuda…ini aku…kakek.” Kembali hening, sunyi, tidak terdengar jawaban. Sang kakek pun melangkah lunglai. Tiba-tiba kepalanya terantuk pada sebuah dinding yang sangat kokoh. Sang kakek meraba tembok itu. Ia mengetuk-ngetuknya beberapa kali. Tok…tok…tok. Dari suara ketukan yang muncul, ia bisa menyimpulkan bahwa tembok itu tembal sekali. Sang kakek kemudian mundur beberapa langkah. Lalu ia menengadahkan kepalanya ke atas. Tidak terlihat ujung tembok itu. Ia pun kembali mundur beberapa langkah dan kembali menengadah ke atas. Lagi-lagi ujung tembok tidak kelihatan. Kembali si kakek mundur kali ini dengan langkah yang lebih banyak. Lalu ia pun kembali menengadah ke atas. Agak samar di atas sana, ia melihat ujung tembok itu. Ia pun berlari mengitari tembok tersebut. Setelah berlari cukup lama dan terengah-engah, sang kakek akhirnya bisa kembali ke posisi semula. ”Bangunan apa ini, mana si pemuda?” Demikian sang kakek menggerutu.

”Siapa di bawah sana?” Terdengar suara berteriak dari kejauhan. Sang kakek menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang. ”Siapa di bawah sana?” Suara itu kembali bertanya. Kali ini sang kakek menengadah ke atas. ”Ia pun melihat sosok seseorang yang sepertinya sudah ia kenal. ”Ini … aku …, ka … kek.” Dengan suara yang terpatah-patah karena kehabisan nafas setelah berlari, sang kakek menjawab. ”Mau apa kamu ke sini?” Suara itu kembali bertanya. Sang kakek tidak menjawab. Ia justru balik bertanya. ”Pemuda, engkau kah itu?” Namun orang di atas sana tidak mau menjawab dan kembali bertanya, ”Mau apa kamu ke sini?” Sang kakek pun menjawab, ”Aku mau mengambil jubah yang dulu aku pinjamkan kepada mu itu.” Orang di atas sana kemudian menjawab, ”Aku tidak kenal kamu dan tidak pernah meminjam jubah kamu.” Sang kakek kembali memanggil, ”Pemuda, itukah kamu?” Beberapa saat tidak ada jawaban. ”Apa yang sedang kamu lakukan? Dimana orang-orang?” Kembali sang kakek bertanya dan kembali ia tidak mendapat jawaban. ”Bangunan apa ini?” Sang kakek hampir putus asa karena tidak mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Kali ini terdengar suara dari atas sana, ”Menara.” Lalu sang kakek kembali bertanya, ”Menara? Untuk apa kamu membuat menara setinggi ini?” Orang di atas sana menjawab dengan nada tinggi, ”Bukan urusanmu!”

Sang kakek menahan nafasnya. Setelah menenangkan diri untuk beberapa saat, ia pun berkata, ”Baiklah pemuda, waktumu telah habis, kembalikan jubahku.” Orang di atas sana membungkukkan badannya ke arah si kakek, ”Sudah ku katakan, aku tidak kenal siapa kamu dan tidak pernah meminjam apa pun dari kamu.” Sang kakek kemudian melambaikan tangannya kepada orang itu, ”Ini aku pemuda, ini kakek.” Namun orang di atas sana tiba-tiba terperanjat dan dengan cepat melangkah mundur. Orang di atas itu melihat tangan si kakek seperti bertambah panjang dan terus menjangkaunya seolah-olah hendak merebut jubah yang terikat di lehernya. Malang dikata, orang itu tersandung sesuatu dan ia pun terjatuh melampaui pembatas menara. Dengan teriakkan yang sangat nyaring dan panjang, orang itu meluncur ke bawah menuju si kakek. ”Aaaaaaaaaahhhhhhggggggggg.”

Di sertai suara benturan di atas permukaan tanah, orang itu menggelepar dengan tubuh yang remuk, wajah yang rusak dan darah yang segera mengalir deras membanjiri tanah di sekitarnya. Sang kakek yang sempat mundur beberapa langkah sebelum orang itu menghantamnya tertunduk sedih. ”Pemuda….” Gumam sang kakek. Ia pun menatap wajah pemuda yang hampir tak bisa dikenali lagi itu. Beberapa saat sang kakek terdiam. Tanpa desah, tanpa suara. Matanya yang sudah kelelahan dipejamkannya kuat-kuat. Angin berhenti bertiup, petir berhenti menyambar. Setelah agak lama, sang kakek membuka matanya perlahan-lahan. Ia pun kemudian membungkukkan tubuhnya dan membuka jubah yang terikat di leher sang pemuda. Setelah berusaha dengan susah payah, akhirnya jubah itu terbuka. Sang kakek lalu mengibas-ngibaskan jubah itu untuk membersikahnnya dari darah dan debu. Kemudian ia mengelus-ngelus jubah itu beberapa saat sebelum akhirnya perlahan-lahan melipatnya. Kakek itu pun kemudian menggerutu. ”Kenapa? Kenapa setiap orang yang menggunakan jubah ini selalu jatuh?” Sang kakek melangkahkan kakinya gontai. Ia pun menatap ke arah para penonton. ”Nebukadnezar menggunakannya lalu jatuh. Firaun menggunakannya juga jatuh.” Si kakek berjalan ke sana ke mari seperti tidak tahu arah. ”Alexander Agung menggunakannya, ia juga jatuh. Julius Cesar menggunakannya juga jatuh.” Masih sambil berjalan ke sana ke mari, si kakek terus berbicara, ”Napoleon menggunakan jubah ini dan jatuh. Hitler menggunakan jubah ini dan jatuh.” Si kakek kemudian membalikkan badannya, hampir membelakangi penonton ketika ia tiba-tiba berkata, ”Anda pun mengenakan jubah ini. Hati-hati, atau Anda akan jatuh seperti mereka!” Lalu sang kakek meninggalkan panggung dengan langkahnya yang khas diiringi musik yang melambat: neng … nong … neng … gung … neng … nong … neng … gung…….Tirai ditutup sangat perlahan-lahan.

Pulang

November 6, 2012

A man travels the world in search of what he needs and returns home to find it.”

George Edward Moore

 

Pulang adalah kata yang paling dinanti dan sekaligus juga kata yang paling dihindari. Hal ini tentu saja bergantung kepada apa yang menunggu kita pada saat kita pulang dan seberapa siap kita menghadapi nya. Bagi kebanyakan kita, dalam keadaan normal, pulang adalah hal yang biasa terjadi sehari-hari, tidak ada sesuatu yang istimewa. Namun bagi sebagian orang, dalam situasi tertentu, pulang menjadi suatu misi mulia yang dilalui dengan penuh pengorbanan.

Sebut saja kisah Odiseus (Odyssey), pahlawan Yunani selama perang Troya yang dikisahkan dalam epik karya Homer. Odiseus yang baru saja memenangi perang Troya selama sepuluh tahun bersama pasukan Yunani tentu sangat rindu untuk bisa pulang ke kampung halamannya, Ithaca. Selain merindukan tanah kelahirannya beserta anggur dan roti yang lezat, Odiseus sangat merindukan istrinya yang cantik, Penelope dan anak laki-lakinya, Telemachus.

Namun apa hendak dikata, perjalanan yang seharusnya berlangsung dalam jangka waktu yang wajar berubah menjadi sebuah kehilangan waktu yang sia-sia karena Odiseus ‘dikerjai’ oleh Poseidon, sang penguasa laut dan Circe, dewi penyihir. Selain itu, rintangan-rintangan lainnya dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Odiseus sendiri atau anak buahnya membuat perjalanan yang seharusnya berakhir malah kembali menjauh. Secara keseluruhan Odiseus harus menghabiskan sepuluh tahun untuk bisa mencapai rumahnya. Selain itu, Odiseus juga masih harus menghadapi para begundal yang mengganggu keluarganya saat ia kembali. Namun semua pengorbanan itu menjadi layak ketika dibandingkan dengan kebahagiaan yang menantinya manakala ia bisa kembali berkumpul dengan keluarga yang ia cintai.

Kadang seseorang membutuhkan tekad dan kekuatan yang luar biasa untuk menempuh perjalanan pulang yang panjang dan melelahkan. Tekad dan kekuatan seperti ini ditemukan oleh seorang Janusz, seorang berkebangsaan Polandia yang melarikan diri dari kamp tahanan Uni Soviet di Siberia selama Perang Dunia ke-2. Dalam kisah yang difilmkan dengan judul The Way Back dan dibintangi oleh Jim Sturgess, Colin Farell dan Ed Harris ini, Janusz memiliki tekad yang kuat tidak saja untuk melarikan diri dari kamp, tetapi untuk menempuh perjalanan panjang ke Polandia melalui gurun Siberia dan bahkan berputar ke India. Bahkan karena namanya sudah di-black list Uni Soviet, Janusz harus rela menanti masuk ke Polandia hingga negara Uni Soviet tiada. Akhirnya baru pada tahun 1989 Janusz bisa kembali ke rumahnya dan berkumpul kembali dengan istrinya.

Kedua kisah perjalanan pulang yang sangat mengharukan tersebut mungkin membuat kita berpikir kembali mengenai makna dari sebuah perjalanan pulang dan mengapa kita layak memperjuangkannya dengan segala pengorbanan. Namun di pihak lain, banyak juga orang-orang yang memilih untuk tidak pulang ke tempat asal mereka. Selain karena merasa di tempat yang baru mereka lebih berhasil dan bisa menikmati hidup yang lebih baik, kenangan pahit di tempat asal bisa jadi menjadi pemicu alasan untuk tidak pulang. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, ada juga orang-orang yang harus ‘dipaksa’ agar mau pulang.

Pulang bukan saja merupakan sebuah perjalanan fisik, tetapi pulang juga merupakan sebuah perjalanan mental. Jarak yang jauh terasa dekat dan menggembirakan ketika kebahagiaan bertemu dengan orang-orang yang dicintai menjadi pemicu semangat. Sebaliknya, jarak yang dekat terasa sangat jauh dan menyiksa ketika hal yang tidak mengenakkan menanti di tempat tujuan kita pulang. Untuk lebih mengapresiasi dan mensyukuri perjalanan pulang yang mungkin sedang atau akan Anda lalui, berikut beberapa makna kepulangan yang ingin saya bagikan.

  1. Pulang berarti memiliki sebuah tempat yang disebut ‘rumah’. Ketika Anda bisa mengatakan “Saya akan pulang,” maka kita adalah satu dari sebagian orang di dunia ini yang sangat beruntung karena memiliki rumah dimana di sana Anda bisa bernaung dan berbagi kasih sayang. Di sekeliling kita masih cukup banyak orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal sebagai rumah bagi mereka sehingga pulang adalah kata yang tidak mereka kenal.
  2. Yang paling menyenangkan, pulang merupakan kesempatan untuk bernostalgia. Suasana rumah, tempat-tempat yang dulu sering Anda kunjungi, makanan kesukaan waktu kecil dan teman-teman lama Anda merupakan bagian dari kenangan yang tidak bisa Anda pisahkan dari perjalanan hidup Anda. Bertemu dengan semua hal yang menyenangkan di masa lalu tentu merupakan kegembiraan tersendiri bagi kita.
  3. Pulang berarti memiliki ikatan dengan tempat asal. Ketika seseorang memutuskan untuk pulang, maka ia merasa masih memiliki ikatan dengan tempat asalnya. Karena itu, ia memutuskan untuk pulang. Bila seseorang sudah tidak memiliki ikatan apa pun dengan tempat dia berasal, maka tidak ada gunanya ia pulang. Ikatan yang saya maksud bisa berupa orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengan kita, hak atau kewajiban yang belum terselesaikan, atau keinginan dan janji yang belum terpenuhi.
  4. Bagi kebanyakan orang, pulang juga merupakan ukuran keberhasilan. Hal ini bisa dilihat dari peristiwa mudik yang terjadi paling tidak dua kali dalam setahun di tanah air kita. Selain karena misi untuk menjalankan silaturahmi, keberhasilan seseorang seringkali diukur dari apa yang dibawa pada saat dia pulang. Bahkan, sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang untuk memaksakan diri untuk membeli atau meminjam barang-barang yang akan mereka bawa pulang sebagai bukti keberhasilan mereka.
  5. Pulang juga merupakan pernyataan sikap. Seseorang bisa memilih untuk pulang karena tuntutan-tuntutannya sudah dipenuhi. Atau sebaliknya, seseorang bisa jadi malah memillih tidak pulang karena ia tidak sependapat dengan pemilik otoritas yang ada di tempat ia pulang.
  6. Pulang bisa merupakan penemuan kembali diri Anda. Yang saya maksud dengan penemuan kembali bisa berupa asal-usul, cita-cita, semangat, atau bahkan misteri yang selama ini belum terungkap. Menelusuri kembali tempat-tempat yang memberikan kenangan bagi Anda, selain untuk bernostalgia, bisa juga menyadarkan Anda tentang apa yang selama ini Anda cari dan inginkan dalam hidup Anda.
  7. Pulang juga merupakan perwujudan cinta. Meskipun melalui berbagai rintangan dan godaan, namun cinta yang kuat dari Odiseus kepada tempat kelahirannya, anak dan istrinya, membuat ia akhirnya bisa kembali ke rumah dan berkumpul kembali dengan keluarganya.
  8. Terakhir, pulang merupakan simbol kebebasan. Seperti kisah Janusz di atas, ketika ia bisa menginjakkan kaki di rumah, maka hal itu merupakan simbol bahwa ia adalah orang bebas. Ia bisa kembali ke rumahnya kapan saja ia mau tanpa terancam oleh pemerintah Uni Soviet atau pihak-pihak lainnya.

Dari pembahasan di atas, kita bisa mencermati bahwa sebuah perjalanan yang sesungguhnya bisa jadi merupakan hal biasa yang dapat terjadi kapan saja kepada siapa saja, ternyata karena konteks yang berbeda bisa menimbulkan makna yang berbeda dan direpresentasikan secara berbeda pula. Apapun makna dari kepulangan Anda kali ini, semoga Anda bisa mensyukurinya  karena tidak semua orang bisa pulang begitu saja seperti yang kita nikmati. Dan sambil menanti saat-saat Anda tiba di tempat tujuan kepulangan Anda, sebaris lirik lagu dari Katon Bagaskara ini akan sangat pas untuk dilantunkan dalam pikiran Anda: Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat. Penuh selaksa makna….

 

Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag Mei 2012

Saksikan Greatness and Happiness di Wide Shot Metro TV!

September 25, 2012

Greatness and Happiness akan dikupas di acara Wide Shot Metro TV tanggal 27 September 2012 mulai pukul 14.05.

Right to Fight

September 15, 2012

Setiap anak terlahir dengan hak istimewa untuk berjuang dan setiap orang tua bertanggung jawab agar mereka tidak kehilangan hak tersebut saat tumbuh dewasa nantinya.

-Jemy V. Confido-

Suatu ketika seorang anak menyaksikan sebuah kepompong sedang bergerak-gerak. Tak lama kemudian, sesosok bentuk yang lucu dan mengibakan muncul dari dalam kepompong tersebut. Ternyata makhluk mungil itu adalah kepala seekor ulat yang tengah berubah menjadi seekor kupu-kupu. Sang ulat kemudian bergulat dengan balutan kepompong, berusaha melepaskan diri. Perlahan-lahan, sang ulat pun berhasil mengeluarkan sebagian tubuhnya. Sang anak tadi kemudian segera sadar apa yang sedang dilakukan sang ulat yaitu membebaskan diri dari balutan kepompong tersebut. Ia pun kemudian mengulurkan tangannya dan membukakan balutan kepompong tersebut. Singkat cerita, sang ulat pun kemudian terbebas dari balutan kepompong berkat bantuan sang bocah. Di bagian punggung sang ulat tampak sepasang sayap kupu-kupu yang indah. Sang ulat yang kini sudah menjadi kupu-kupu itu pun kemudian membentangkan kedua sayapnya. Ia bersiap-siap untuk mengepakkan sayapnya dan terbang untuk pertama kalinya. Namun apa daya, sayapnya tidak bisa mengepak dengan sempurna dan sang kupu-kupu baru itu pun tidak bisa terbang. Rupanya, niat baik sang bocah telah menimbulkan akibat yang buruk terhadap perkembangan sang kupu-kupu. Proses yang sejatinya berlangsung berjam-jam, telah diubah menjadi beberapa menit saja oleh sang anak. Hal ini menyebabkan sang kupu-kupu kehilangan kesempatan terbaiknya untuk melatih otot-ototnya sehingga otot-ototnya tidak cukup kuat untuk terbang. Kondisi ini sulit untuk diperbaiki kemudian selain karena tidak tersedia fasilitas khusus untuk melatih otot-ototnya, elastisitas otot-ototnya juga sudah berkurang seiring pertambahan usia kupu-kupu ini.

Sebagai orang tua, saya juga pernah merasakan situasi serupa. Kehadiran putri kami yang merupakan anak pertama sungguh memberikan kebahagiaan. Terlebih lagi kelucuan dan kadang kehebohan yang diciptakannya sungguh memberikan kegembiraan tersendiri bagi kami. Semua ini membuat kami berusaha memberikan yang terbaik dan terkadang agak memanjakan putri kami tersebut. Setelah melalui masa-masa yang penuh dengan keceriaan tersebut, maka tibalah putri kami untuk memasuki masa-masa persiapan sekolah. Setelah melalui masa pra sekolah dengan baik, tahun ini putri kami pun masuk ke kelas TK Kecil. Di tahap ini, putri kami sudah dituntut untuk mulai menulis huruf dan angka. Tak ayal, saya dan istri pun mulai mengajarinya. Pertama-tama kami berusaha mengajarinya dengan sabar namun lambat laun kesabaran kami semakin berkurang karena melihat putri kami tidak cukup tertarik untuk belajar. Kami pun mulai mendidiknya dengan keras. Untuk beberapa saat, putri kami seperti terkejut dan protes terhadap tindakan kami. Matanya seolah bertanya mengapa kelemahlembutan ibu dan kebersamaan ayah berubah menjadi kemarahan? Mengapa saya tidak bisa dibebaskan saja dari tuntutan untuk belajar ini dan bisa bermain dengan gembira?

Saya dan istri pun berdiskusi. Putri kami rasanya masih terlalu kecil untuk diberi tugas menulis. Apakah kami terjebak dalam ambisi orang tua dan kemudian merampas kegembiraan putri kami ataukah kami benar-benar sedang mendidiknya agar ia kelak bisa menggunakan salah satu hak istimewa yang dimilikinya yaitu hak untuk berjuang. Dalam hal ini, kami sadar bahwa bukan hasil tulisannya yang penting bagi kami tapi keinginan untuk mencoba menulis itu yang kami coba timbulkan dalam diri putri kami. Setelah melalui berbagai upaya, dalam beberapa minggu berikutnya, putri kami terlihat semakin tertarik mencoba menulis. Meskipun awalnya berat, namun pada akhirnya kami semua sangat bergembira karena kemajuan yang diperlihatkan oleh putri kami tersebut.

Tanpa disadari oleh setiap anak yang terlahir ke dunia ini dan juga tanpa disadari oleh kebanyakan orang tuanya, sesungguhnya setiap anak memiliki hak untuk berjuang agar ia mampu menghadapi kerasnya kehidupan ini dan menjadi orang yang berhasil. Hak ini seringkali dirampas tanpa disadari oleh orang-orang di sekitarnya terutama orang tuanya sendiri dengan alasan tidak ingin mengambil kebahagiaan anak-anak mereka. Sungguh suatu perbedaan yang tipis sepertinya namun dengan pikiran yang jernih dan hati nurani yang ikhlas, setiap orang tua bisa dengan bijak membedakannya. Ketika kita membuat anak-anak kita tertawa bahagia, maka kita sedang memberikan kebahagiaan kepada mereka. Kecuali, bila kebahagiaan tersebut membuat mereka tidak mau berusaha, maka kita sesungguhnya sedang mengambil hak mereka untuk dapat berjuang.

Agar kita tidak merampas hak anak-anak kita untuk berjuang, berikut tiga tips sederhana yang bisa saya bagikan kepada para pembaca:

  1. Didiklah anak untuk terbiasa bertanggung jawab sejak dini.

Hal-hal kecil seperti memasang sepatu dan kaos kaki sendiri akan melatih anak untuk bisa mandiri dan lebih siap untuk berjuang nantinya. Biasakan juga anak untuk menerima kenyataan bila ia memang melakukan kesalahan dalam proses memikul tanggung jawab ini. Hindari kebiasaan buruk seperti menyalahkan lantai bila anak terjatuh karena ia kurang berhati-hati. Beri pengertian kepadanya bahwa bila ia kurang berhati-hati maka ia bisa terjatuh.

  1. Hargailah setiap usaha yang diperlihatkan oleh anak.

Para orang tua tentu berharap bahwa anak-anak mereka akan berhasil nantinya. Namun hasil tidak selalu tercapai seketika. Karena itu, beri perhatian pada usaha yang dilakukan oleh sang anak, bukan kepada hasil yang diperolehnya. Bila sang anak sudah belajar keras namun nilai ujiannya belum memuaskan, beri penghargaan kepada usahanya. Terus beri semangat bahwa hasil yang baik akan datang dari usaha yang baik pula. Bantu sang anak untuk menemukan usaha yang lebih efektif serta beri dukungan yang diperlukan terutama dukungan moril.

  1. Rangsang anak untuk memiliki tujuan dan yakinkan bahwa ia harus berjuang untuk mencapainya.

Setiap orang tua selalu tertarik untuk mendengar cita-cita para anaknya. Bahkan tidak jarang justru orang yang memberikan cita-cita kepada anakn-anak mereka. Namun kegairahan untuk meraih cita-cita harus dibarengi juga dengan kesediaan untuk memperjuangkannya. Sambil menunggu tercapainya cita-cita yang besar, akan sangat membantu bila anak-anak juga memiliki tujuan-tujuan antara. Misalnya menjadi juara kelas atau memiliki tas sekolah baru. Ajak mereka untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan tersebut seperti belajar dengan lebih tekun atau menabung. Ciptakan simulasi-simulasi yang menarik dan menantang bagi mereka untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Dalam memberikan hak bagi anak-anak untuk berjuang tersebut, kita harus selalu ingat bahwa semakin awal kita mengajarkannya kepada mereka maka akan semakin baik hasilnya. Sebaliknya, semakin terlambat kita mengajarkannya, maka akan semakin sulit bagi mereka untuk menerimanya. Hal ini terutama disebabkan oleh terbentuknya kebiasaan kontra produktif yang justru membuat mereka lebih memilih untuk menghidari tantangan dan tanggung jawab.

Sang bocah dalam kisah di atas mungkin merasa iba melihat sang ulat yang kesulitan keluar dari balutan kepompong. Namun ia tentunya akan merasa lebih iba manakala melihat sang ulat yang telah menjelma menjadi kupu-kupu tidak memiliki saya yang dapat berfungsi dengan baik. Demikian pula sebagai orang tua, mungkin kita akan sedih bila melihat anak kita mengalami kesulitan. Namun kita akan lebih bersedih lagi bila melihat mereka tidak memiliki kesiapan sama sekali untuk menghadapi kesulitan tersebut.

 

Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi September 2012.

Greatness and Happiness telah tersedia di Toko Buku Gramedia

May 30, 2012

Sinopsis Greatness and Happiness

May 24, 2012

Setelah lebih dari 4 tahun hadir di inflight magazine ‘Lionmag’, kompilasi artikel ‘Widsom in the Air’ akhirnya diluncurkan. Selama kurun waktu tersebut, telah banyak pembaca yang memberikan komentar, dukungan dan ucapan terima kasih di blog penulis atau bahkan meminta artikel secara langsung kepada penulis. Banyak juga pembaca yang mengutip artikel-artikel ‘Wisdom in the Air’ dalam blog mereka atau bahkan situs-situs resmi institusi. Karena itu, kehadiran buku yang diberi judul Greatness and Happiness: Kisah, Gagasan dan Kearifan yang Menginspirasi ini benar-benar sebuah momentum yang telah ditunggu-tunggu oleh banyak orang.

Untuk lebih memberikan kenikmatan kepada para pembaca, buku ini dikelompokkan ke dalam lima bagian yaitu determinasi, pembelajaran, strategi, pencerahan dan kepemimpinan. Kelima bagian tersebut masing-masing mencerminkan tahapan yang dilalui oleh seseorang dalam mencapai keagungan jiwa (greatness). Keagungan jiwa adalah kondisi mutlak yang diperlukan agar seseorang bisa merasakan kebahagiaan (happiness) yang merupakan keinginan setiap manusia dalam menjalani hidup di muka bumi ini.

Setiap bagian disusun secara lepas namun tetap memperkuat inspirasi terhadap bagian lainnya. Hal ini sangat selaras dengan widsom yang merupakan interdependensi antara berbagai aspek yang saling melengkapi. Demikian pula setiap artikel bisa menjadi sebuah gagasan yang utuh namun saling terhubung dengan artikel lainnya seperti kepingan puzzle yang memiliki bentuk namun ketika dipasangkan dengan kepingan-kepingan lain akan membentuk nuansa yang lebih lengkap dan lebih indah.

Buku ini sangat tepat bagi Anda yang memang berkeinginan mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam perjalanan menuju keagungan jiwa dan menciptakan kebahagiaan tidak hanya untuk diri Anda sendiri tetapi juga orang-orang di sekitar Anda.

Quotes of the Century

February 9, 2012

” Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” – Mahatma Gandhi

Greatness and Happiness (1)

February 9, 2012

Kisah berikut ini mungkin sudah pernah Anda dengar. Sepasang suami-istri berjalan di tepi sawah menuju rumah mereka dalam kondisi hujan gerimis. Mereka melihat sepasang suami-istri lain mengendarai sepeda motor. Sang suami berkata,”Enak ya Bu jadi mereka. Meskipun masih kehujanan, mereka bisa lebih cepat tidak seperti kita yang berjalan kaki.”
Tak lama kemudian, sepasang suami-istri yang mengendarai sepeda motor tersebut melihat sebuah mobil bak terbuka yang dikendarai juga oleh sepasang suami-istri lainnya. Sang suami yang mengendarai motor pun berkata,”Asyik ya Bu jadi mereka. Meskipun mobil mereka tidak bagus, tapi mereka tidak kehujanan seperti kita.”
Di dalam mobil bak terbuka, sepasang suami-istri tersebut melihat sebuah sedan mewah. Sang suami berkata pada istrinya,”Nikmat ya Bu jadi mereka, bisa naik mobil bagus tidak seperti mobil kita yang sering mogok.”
Di dalam mobil sedan, sepasang suami-istri melihat pasangan suami-istri pertama yang sedang berjalan di tengah hujan gerimis. Sang suami pun berkata,”Romantis ya Mam, mereka bisa berjalan berpegangan tangan sambil menikmati hujan dan hawa desa yang sejuk.”
Petikan kisah di atas mengingatkan kita kembali pada dilema kebahagiaan. Mana yang benar, karena kita bahagia maka kita menjadi orang berjiwa besar atau karena kita orang berjiwa besar maka kita menjadi bahagia? Kedua pendapat tersebut bisa diperdebatkan secara panjang lebar dan memberikan implikasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Namun saya punya pertanyaan mendasar: apa yang membuat seseorang berbahagia? Bisakah kebahagiaan diukur? Bisakah kebahagiaan seseorang dipuaskan? Dalam banyak kasus, seseorang bisa jadi sudah mendapatkan hampir semua hal dalam hidupnya kecuali ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya ada juga orang yang sepertinya tidak memiliki apa-apa tetapi dia berbahagia. Bahkan ada juga orang yang tidak tahu apakah dia berbahagia atau tidak. Kadang-kadang, seseorang menyadari kalau dulu ia berbahagia, namun ia baru menyadarinya setelah kebahagiaan itu berlalu. Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai kepuasan dan karenanya semakin seseorang mencari kebahagiaan, semakin ia tidak puas dan semakin ia tidak berbahagia. Kebahagiaan (happiness) memiliki implikasi disjunctive atau saling melemahkan.
Apa bedanya dengan berjiwa besar (greateness)? Orang berjiwa besar yang saya maksud di sini bukan orang hebat secara fisik dan mental namun orang yang hebat secara emotional dan spiritual. Uniknya, orang-orang seperti itu tidak mau mengakui bahwa mereka hebat. Bahkan mereka tidak peduli dengan atribut hebat yang dilekatkan oleh orang lain kepada mereka. Semakin mereka hebat (dalam pengertian ini), semakin mereka merasa tidak hebat dan akibatnya mereka semakin belajar untuk bertambah hebat. Hebat (greatness) memiiki implikasi conjunctive atau saling menguatkan.
Jika demikian, maka pertanyaannya apakah salah bila kita ingin mencapai kebahagiaan? Tentu saja tidak. Bahkan kita harus mencapai kebahagiaan. Namun kita harus ingat bahwa kebahagiaan adalah hasil, bukan cara, sehingga ada proses yang harus dilalui. Seseorang tidak bisa serta merta menjadi bahagia bila ia tidak melalui proses tersebut. Proses ini yang saya sebut dengan greatness. Dengan kata lain, mencapai greatness akan membuat seseorang mencapai happiness.

Lalu apa yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai greatness? Tentu ada banyak opini dan pembuktian yang harus dilakukan. Namun untuk menyederhanakan pembahasan kita, saya akan menitikberatkan pada lima aspek berikut ditambah happiness sebagai tujuan yang ingin dicapai.

Catatan: Artikel ini pernah dimuat di Lionmag edisi November 2011.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers